kuliner

Oktober 18, 2010 pukul 11:29 am | Ditulis dalam kuliner | Tinggalkan komentar

Soto Banjar

Soto, sroto, atau coto adalah makanan khas Indonesia yang terbuat dari kaldu daging dan sayuran. Daging yang paling sering digunakan adalah sapi dan ayam, tapi juga **** dan kambing. Berbagai daerah di Indonesia memiliki jenis soto sendiri, dengan kandungan yang berbeda-beda, misalnya Soto Kediri soto Madura, soto Betawi, soto Padang, soto Bandung, soto Sokaraja, soto Banjar, coto Makassar. Soto juga dinamai menurut kandungannya, misalnya soto ayam, soto babat, soto kambing. Soto memiliki banyak kemiripan dengan sop.

Karena ada beberapa jenis soto di Indonesia, masing-masing mempunyai cara penyajian yang berbeda-beda. Soto bisa dihidangkan dengan berbagai macam lauk, misalnya kerupuk, perkedel, emping melinjo, sambal, saus kacang, dan lain-lain. Dan juga pula dengan tambahan lainnya seperti sate telur pindang, sate kerang, jeruk limau, koya (campuran tumpukan kerupuk dengan bawang putih) dll. Seperti kita ketahui bahwa makanan pokok orang Indonesia adalah nasi, sehingga soto biasanya dihidangkan dengan nasi sebagai menu utama. Namun, ada perbedaan dalam hal menu utama nasi tersebut. Kebanyakan soto dihidangkan secara terpisah dengan nasi, seperti Soto Betawi, Soto Padang, dan lain-lain. Namun, ada juga yang dihidangkan bersama dengan nasi atau soto campur nasi, misalnya Soto Kudus. Selain itu, ada juga soto yang dihidangkan dengan lontong atau nasi yang sudah dimasak dengan dibungkus daun pisang, misalnya Coto Makassar. Kemudian, ada juga yang memakai mie, dan bukan nasi sebagai menu pokoknya, misalnya Soto Mie Bogor.

Macam-macam Bakso

Bakso Lekker, bakso nikmat, dgn rasa daging sapi yang pekat, dan aroma yang memikat. Di racik dengan bumbu2 pilihan, menghasilkan cita rasa tinggi dan khas.

Bakso Lekker, bakso sehat tanpa pengawet.

Mie Ayam

Sekarang mie telah menjadi makanan pokok ke 2 setelah beras. Ini ide bagus jika kita bisa mengambil ini sebagai peluang bisnis yang potensial untuk digali. Yah, memang selama ini bisnis yang masih cukup menggoda untuk tetap dikembangkan adalah bisnis mie ayam.

Bagaimana tidak, hampir semua orang menyukai makanan ini. Bisnis ini bak jamur yang mudah tumbuh dimana-mana dan tetap eksis sampai sekarang. Tapi banyak juga yang gulung tikar karena tidak bisa memiliki ciri khas yang membuat konsumen terpikat oleh mie yang ditawarkan.

Saat ini penjualan Mie bisa kita temui dengan banyak variasi, ada juga berjualan dengan menggunakan gerobak, tenda, warung, maupun dalam restoran-restoran.  Sehingga tak salah jika banyaknya persaingan dalam penjualan mie ini. Persaingan memang merupakan salah satu resiko usaha mi ayam. Karena hampir di semua ruas jalan dapat ditemui pedagang makanan ini. Untuk menghindari persaingan memang perlu beberapa cara untuk memenangkan suatu persaingan demi memikat konsumen agar datang ke usaha anda.

Martabak Kubang


“Selain masyarakat dari Sumatera, memang siapa sih yang tahu artinya Kubang itu apa? Saya perlu waktu tiga tahun untuk memperkenalkan rumah makan ini,” tutur Iwan pengelola sekaligus pencetus Martabak Kubang.

Saat ini, sekitar 10 karyawan resto ini tampak sibuk menjelang sore hari. Mobil-mobil yang parkir pun kian berjajar jika matahari mulai terbenam. Bahkan tidak sedikit antrean terjadi sekedar menunggu martabak matang dan dibawa pulang oleh pembeli.

“Alhamdulillah, lambat laun martabak Kubang mulai dikenal luas. Saya pun akhirnya banyak membuka cabang,” ujarnya.

Iwan perlu enam tahun untuk membuka cabang pertama. Maka pada 1994 dia memilih kawasan Depok untuk tempat usahanya yang baru. Tanpa disadari rumah makan ini banyak peminatnya. Tiga tahun kemudian dia melirik daerah Kalimalang untuk outlet ketiga. Selanjutnya dia mengambil lokasi di Roxy, Serpong, dan Bandung.

Bagi dia, semakin memperbanyak outlet maka Martabak Kubang makin populer. Jika masyarakat luas sudah tahu merek tersebut, maka cakupan pasarnya makin besar.

“Jadi prinsip saya semakin memperbanyak outlet maka makin luas pula pasarannya. Jadi makin terkenal kita juga mudah memasarkannya,” ujarnya.

Meski merk Kubang sudah dipatenkan, Iwan tidak bisa menolak kehadiran persaingan martabak sejenis yang dijajakan dengan memakai gerobak. Bahkan di dekat restorannya di Tebet, terdapat gerobak Martabak Kubang. Tapi dia tidak gentar karena Martabak Kubang buatannya memiliki cita rasa yang khas, yakni pedas dan padat isi.

Bayangkan saja, satu kilogram daging cincang dipakai untuk 15 martabak biasa, dan 10 martabak spesial. Jadi isi martabak Kubang ini benar-benar padat.

Kemudian, ciri lainnya adalah bahan baku berupa bawang Bombay, daun bawang dan selederi yang segar dan memberikan keharuman memikat.

Untuk rasa pedas yang digemari kebanyakan orang Sumatera, cabai rawitnya didatangkan juga dari Padang. Bahkan minyak goreng yang dipakainya terbuat dari margarin sehingga tidak perlu banyak minyak seperti halnya menggunakan minyak samin.

Selain itu, bumbunya dibuat khusus dari Padang. Bahkan untuk menjaga mutu, bumbu itu sengaja didatangkan dua kali seminggu dari pusatnya di Padang.

Karena itu tidak heran, jika rasa Martabak Kubang milik H Yusri Darwis dimanapun berada tetap sama. Bahkan ada bumbunya yang memang berasal dari India.

Dengan alasan menjaga mutu dan cita rasa inilah pihaknya tidak menawarkan kemungkinan waralaba, sekalipun ada beberapa peminat.

Untuk melengkapi rumah makannya, Iwan juga menjajakan masakan Padang lainnya berupa Soto Padang, Sate Padang, roti cane dengan aneka rasa, mie goreng, serta aneka masakah Padang lainnya.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: